Sosok Ustad Abdul Aziz, Mantan Pendeta Hindu Haramkan Tumpeng, Pernah Ditangkap Polisi
Seorang ustad yang bernama Abdul Aziz tengah viral di media sosial karena menyebut tumpeng merupakan simbolisasi dari agama Hindu.
Ustad Abdul Aziz mengatakan orang yang membuat tumpeng, maka otomatis masuk ke dalam agama Hindu.
Ustadz tersebut juga mengatakan, barang siapa yang membuat tumpeng, maka artinya ia sudah berkeyakinan Hindu.
"Umat Hindu mengatakan barangsiapa yang sudah bikin tumpeng, berarti dia sudah beragama Hindu," lanjutnya lagi.
Pentingnya pemuka agama paham sejarah tuh biar argumen gini gak keluar dari mulut pemuka agama apapun.
Tumpeng ini makanan tertua, udah ada dari zaman pra-sejarah pas orang masih nyembah gunung. Jauh sebelum agama masuk. Islam dan Hindu itu cuma adaptasi dari tradisi yang ada https://t.co/ynA64w9GYd
— Mazzini (@mazzini_gsp) November 30, 2020
Video ceramah ustad Abdul Aziz mengenai membuat tumpeng bisa bikin masuk agama Hindu ini pun viral dan menuai kritikan dari netizen.
Banyak netizen beragama Hindu tidak setuju dengan ceramahnya bahwa membuat tumpeng bisa bikin otomatis masuk agama Hindu.
Sosok Ustadz Abdul Aziz
Lalu, siapa sebenarnya ustadz Abdul Aziz ini? Berdasarkan penelusuran Indozone, Abdul Aziz merupakan mualaf mantan pendeta agama Hindu.
Dia pernah mengatakan bahwa umat Islam kerap melakukan ritual yang merupakan ajaran agama Hindu, padahal tidak punya dasar di Al-Quran ataupun hadist.
"Masih banyak ritual umat Islam ini mengamalkan ajaran agama Hindu," kata ustadz yang lulusan Pendidikan Guru agama Hindu dalam sautu tabligh akbar di Lampung pada tahun 2011 silam.
Ritual tersebut seperti membuat nasi tumpeng, peringatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari orang meninggal, dan juga mengirimkan doa untuk jenazah.
Menurutnya, ini terjadi karena agama Hindu memang lebih dulu masuk ke Indonesia.
Pernah Ditangkap Polisi
Di tahun 2011, Ustad Abdul Aziz yang berasal dari Blitar ini pernah diamankan oleh polisi, saat mengisi tabligh di salah satu masjid di Kulonprogo.
Ada dugaan bahwa dalam ceramahnya memuat adu domba antar umat beragama, sehingga diamankan oleh polisi.
Namun, pihak panitia membantah adanya provokasi dan menyebut bahwa isi ceramah itu standar saja. Ustad Abdul Aziz akhirnya diizinkan pulang setelah membuat surat pernyataan.
Sejarah Tumpeng di Indonesia
Dari segi penamaan, kata 'Tumpeng' sendiri merupakan kependekan dari "Yen metu kudu sing mempeng", yang berarti "Kalau keluar harus bersungguh-sungguh".
Maksudnya adalah setiap apapun yang hendak dilakukan atau dipilih harus dengan sungguh-sungguh, agar hasil yang akan diperoleh akan maksimal nantinya.
Biasanya nasi tumpeng disusun dengan beragam macam jenis lauk, biasanya berjumlah 7 macam. Jumlah 7 tersebut memiliki makna "Pitulungan" yang berarti "Pertolongan", diambil dari Bahasa Jawa "Pitu" yang berarti "Tujuh".
Menurut pakar kuliner Arie Parikesit, tumpeng sudah lama ada, bahkan sebelum ajaran agama masuk ke Nusantara. Tumpeng dulu merupakan perwujudan rasa syukur kepada "kekuatan besar" yang disembah.
Bentuk tumpeng menyerupai kerucut sebagai perwujudan gunung yang dianggap merupakan tempat suci bagi Dewa dan arwah leluhur.
Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.
Dalam perkembangannya, tumpeng diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa saat melakukan tradisi kenduri dan mengalami penyesuaian bentuk juga.
