Gus Baha bicara siapa sebenarnya sosok H4bib Riz|eq



Belum lama ini ada sebuah video yang memunculkan keterangan penceramah Gus Baha soal Habib Rizieq. Pada video yang merupakan bagian dari ceramahnya itu, Rais Syuriah PBNU bernama lengkap KH Ahmad Bahauddin Noersalim itu menggambarkan siapa sebenarnya sosok Imam Besar FPI, Habib Rizieq.

Nama Habib Rizieq sendiri belakangan dikait-kaitkan dengan jargon perlawanan terhadap penguasa. Di salah satu ceramahnya, Gus Baha menyatakan kalau Habib Rizieq merupakan salah seorang yang memiliki kepribadian baik.

“Orang itu sering tanya sama saya. Menurut jenengan, Habib Rizieq itu bagaimana? Saya jawab, Habib Rizieq itu dzuriyah Rasul, nahi munkar pasti baik,” kata Gus Baha dalam saluran Youtube Kajian Cerdas, disitat Rabu 19 Agustus 2020.

Demikian pujian Gus Baha terhadap Habib Rizieq. Tetapi pujian ini tidak lantas membuatnya kurang menaruh hormat kepada tokoh lain yang berbeda pandangan dengan Habib Rizieq.

Gus Baha kemudian mengajak jemaahnya untuk tetap bersikap moderat. Tidak terjatuh dalam fanatisme buta atau pembelaan yang membabi buta.

“Ya saya tidak tahu nanti tanggung jawabnya kepada Allah seperti apa, kita tidak tahu. Apa yang benar FPI atau ahlus sunnah. FPI juga ahlus sunah, karena Habib Rizieq juga dzuriyahh Rosul. Tapi kan kita adil.”

“Saya ingin, yang ngaji sama saya itu, kalau Anda ittiba’ sama habaib, ya bandingannya dengan habaib. Saya ini orang alim, tapi masih belajar. Saya baca ideologi FPI, saya baca karangannya Mbah Soleh Darat, Sunan Giri, Sunan Ampel. Saya baca ulama yang ekstremis sampai ulama yang moderat.”

Kata dia, tanggung jawab sebagai ulama itu memanglah sangat berat. Sebab harus memahami semua yang ada di masyarakat. Artinya tidak bisa memandang satu hal pada satu sisi saja.

Tetapi juga perlu melakukan pendekatan perspektif keilmuan, bukan hanya sekadar sudut pandang politis.

Menurut Gus Baha, sekalipun model ‘nahi munkar’ juga ajaran Islam, tetapi pada umumnya kiai dan ulama di Indonesia tidak memilih jalan ini.

Umumnya lebih senang bersabar menghadapi kemaksiatan di masyarakat sambil terus membenahi melalui seruan melakukan kebaikan (amar makruf).

Metode terakhir inilah yang justru membuat banyak tersadarkan dan kemudian memeluk Islam dengan baik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel