Ada Seruan B0ik0t Produk Prancis, Permadi: Antara Boikot dan Gak Kebeli Itu Beda Tipis



Pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda mengomentari ramainya seruan memboikot produk buatan Prancis sebagai bentuk kecaman atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam.

Melalui akun Instagram-nya, Abu Janda berpendapat bahwa ada sejumlah pihak di Indonesia yang juga ikut menggaungkan pemboikotan padahal selama ini mereka memang tidak menggunakan produk dari Prancis.

"Biasa minum aer rebus mau boykot Evian. Biasa nyampo pake sabun batang mau boykot Lorea'l. Biasa pake tas KW mau boykot Louis Vitton. Biasa pake oblong mau boykot Lacoste. Biasa naek motcin mau boykot Peugeot. Itu namanya bukan boykot, itu suratan nasib gak kebeli belom rezeki (emoji tertawa)," tulis @permadiaktivis1, Sabtu (31/10/2020).

"Antara boikot sama gak kebeli itu memang beda tipis (emoji tertawa)," sindir Abu Janda.

Seperti diberitakan, Presiden Prancis Emmanuel Macron dianggap menghina Islam karena pernyataannya soal radikal Islam, menyebut Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia, hingga sikapnya yang mengizinkan majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Berbagai pernyataan kontroversial itu dilontarkan Macron sebagai respons atas pemenggalan kepala seorang guru bernama Samuel Paty oleh seorang pria pendatang dari Chechnya. Pelaku disebut membunuh Paty karena tidak terima sang guru menggunakan karikatur Nabi Muhammad sebagai bahan diskusi.

Pernyataan Presiden Macron yang dinilai menghina Islam itu mendapat reaksi keras dari berbagai negara, terutama negara Arab dan negara mayoritas Islam. Sejumlah negara telah menyampaikan kecamannya atas pernyataan Macron tersebut, sementara aksi boikot produk Prancis telah diserukan di beberapa negara termasuk Kuwait, Qatar dan Turki.

Di Indonesia sendiri, himbauan untuk memboikot produk asal Prancis diserukan oleh sejumlah pihak, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI), Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U).

Namun demikian, hingga saat ini tidak ada seruan dari pemerintah yang mengajak memboikot produk asal Prancis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel