Jika Ada Sweeping Produk dan WNA Pr4ncis, Jangan Salahkan Umat Islam



Dunia menjadi gaduh akibat pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina umat Islam dan Nabi Muhammad SAW. Karenanya, Macron jangan salahkan umat muslim bila tertindak sesuatu.

Begitu Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin kepada wartawan, Kamis (29/10/2020).

“Jangan salahkan umat Islam bergerak dimanapun,” tegas Novel.

Menurut Novel, sangat wajar jika umat Islam di berbagai belahan dunia marah dan bereaksi keras atas pernyataan Macron. Sebab, ajaran Islam mengharamkan penghinaan terhadap agama apapun.

“Namun haram juga hukumnya bagi umat Islam kalau Islam dihina mereka diam saja. Bahkan pelaku penista agama tidak ada tebusannya kecuali hukumannya mati,” ujarnya.

Novel menyarakan, untuk meredam amarah umat Islam, pihak Kedutaan Besar Prancis sebaiknya membuat pernyataan sikap yang berisi penyesalan dan permintaan maaf kepada umat Islam atas kesalahan yang dibuat Presiden Macron.

“Kedutaan besar Prancis harus membuat pernyataan sikap atas salahnya Presiden Prancis dan menyesalkan atas tindakan presidennya,” sarannya.

Apabila hal itu tidak dilakukan, lanjut Novel, maka umat Islam akan melakukan pembalasan. Termasuk kemungkinan adanya sweeping terhadap produk-produk buatan Prancis dan juga warga negara asing (WNA) asal Prancis yang menetap di Indonesia.

“Karena kalau tidak, umat Islam tidak akan berhenti melakukan pembalasan, temasuk kami tidak bertanggung jawab atas sweeping warga asing Prancis dan produk- produk Prancis,” tukasnya.

Berbagai pernyataan kontroversial itu dilontarkan Macron sebagai respons atas pemenggalan kepala seorang guru bernama Samuel Paty oleh seorang pria pendatang dari Chechnya. Pelaku disebut membunuh Paty karena tidak terima sang guru menggunakan karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai bahan diskusi.

Pernyataan Macron yang dinilai menghina Islam itu mendapat reaksi keras dari berbagai negara, terutama negara Arab dan negara mayoritas Islam. Sejumlah negara telah menyampaikan kecamannya atas pernyataan Macron tersebut, sementara aksi boikot produk Prancis telah diserukan di beberapa negara termasuk Kuwait, Qatar dan Turki.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel